Tuesday, August 7, 2012

Dia Hanya Mengajakmu Untuk Menyembah Allah


ABDULLAH bin Abbas meriwayatkan, Abu Sufyan bercerita kepadanya setelah perjanjian Hudaibiyah, tentang peristiwa yang terjadi pada waktu dia masih kafir. Abu Sufyan dan beberapa pedagang Makkah berdagang ke Syria. Kaisar Romawi, Heraklius, yang sedang berziarah ke Baitul Maqdis (Yerusalem), tiba-tiba memanggil mereka.

Heraklius sedang menerima tamu dengan para penasihat serta pejabat istana, dan memanggil kami untuk menghadap. Dia mulai menanyai kami lewat seorang penerjemah dan bertanya adakah di antara kami yang mempunyai hubungan kerabat dengan orang di Arab yang menyebut dirinya Nabi Allah.

Abu Sufyan maju dan mengatakan dia adalah kerabat dekat Muhammad.

Heraklius mempersilahkan dia duduk di depannya. Rombongan pedagang Makkah lainnya duduk di belakang Abu Sufyan. Heraklius meminta pedagang lainnya menyela jika dalam keterangannya Abu Sufyan berbohong tentang Nabi Muhammad SAW. Hal ini membuat Abu Sufyan berada dalam posisi sulit. Jadi, dia tidak berani berbohong tentang Muhammad SAW kepada sang Kaisar.

”Bagaimana silsilah (asal-usul) keluarga Muhammad?”

”Dia berasal dari keluarga bangsawan tinggi dan kaum yang terbaik di antara kami,” jawab Abu Sufyan.

”Adakah orang lain dalam keluarganya yang menyebut dirinya Nabi?”

”Tidak ada.”

”Adakah di antara keluarganya yang menjadi raja atau kaisar?”

”Tidak ada.”

”Apakah pengikut agamanya itu orang kaya ataukah orang kebanyakan?”

”Pengikutnya adalah orang lemah dan miskin, budak, dan wanita muda.”

”Jumlah pengikutnya bertambah atau berkurang?”

”Terus bertambah dari waktu ke waktu.”

”Setelah menerima agamanya, apakah pengikutnya itu tetap setia kepadanya ataukah merasa kecewa lalu meninggalkan dia?”

”Tidak ada yang meninggalkannya.”

”Sebelum dia menjadi nabi, apakah dia suka berdusta?”

”Tidak pernah.”

”Pernahkah orang itu ingkar janji atau mengkhianati kepercayaan yang diberikan kepadanya?”

”Tidak pernah. Kami baru saja melakukan perjanjian gencatan senjata dengannya dan menunggu apa yang akan diperbuatnya. (Abus Sufyan tidak dapat mengatakan sesuatu yang bertentangan mengenai Nabi).”

”Pernahkah engkau berperang dengannya?”

”Pernah.”

”Bagaimana hasilnya?”

”Kadang-kadang kami yang menang, kadang-kadang dia yang lebih baik daripada kami.”

”Apa yang dia perintahkan kepadamu?”

”Dia memerintahkan kami untuk melakukan hal-hal berikut : Hanya menyembah Allah dan tidak mempersekutukanNYA dengan apa pun; dan meninggalkan takhayul serta kepercayaan leluhur kami; shalat secara teratur; membayar zakat dan berbuat baik kepada fakir miskin; bersikap jujur dan dapat dipercaya; memelihara apa yang dititipkan kepada kita dan mengembalikan dengan utuh; memelihara silaturrahim dengan semua orang, dan yang paling penting dengan keluarga sendiri.”

Lalu, seperti dikisahkan oleh Abu Sufyan, Heraklius memberikan tanggapan sebagai berikut melalui penerjemahnya.

”Aku bertanya kepadamu tentang silsilah keluarganya dan kau menjawab dia adalah keturunan bangsawan terhormat. Nabi-nabi terdahulu pun berasal dari keluarga terhormat di antara kaumnya.

“Aku bertanya kepadamu apakah ada di antara keluarganya yang menjadi nabi, jawabannya tidak ada. Dari sini aku menyimpulkan bahwa orang ini memang tidak dipengaruhi siapapun dalam hal kenabian yang diikrarnya, dan tidak meniru siapapun dalam keluarganya.

“Aku bertanya kepadamu apakah ada keluarganya yang menjadi raja atau kaisar. Jawabannya tidak ada. Jika ada leluhurnya yang menjadi penguasa, aku beranggapan dia sedang berusaha mendapatkan kembali kekuasaan leluhurnya.

“Aku bertanya kepadamu apakah dia pernah berdusta dan ternyata menurutmu tidak pernah. Orang yang tidak pernah berdusta kepada sesamanya tentu tidak akan berdusta kepada Allah.

“Aku bertanya kepadamu mengenai golongan orang-orang yang menjadi pengikutnya dan menurutmu pengikutnya adalah orang miskin dan hina. Demikian pulalah halnya dengan orang-orang terdahulu yang mendapat panggilan kenabian.

“Aku bertanya kepadamu apakah jumlah pengikutnya bertambah atau berkurang. Jawabanmu, terus bertambah. Hal ini juga terjadi pada iman sampai keimanan itu lengkap.

“Aku bertanya kepadamu apakah ada pengikutnya yang meninggalkan dia setelah menerima agamanya dan menurutmu tidak ada. Itulah yang terjadi bila keimanan sejati telah mengisi hati seseorang.

“Aku bertanya kepadamu apakah dia pernah ingkar janji dan menurutmu tidak pernah. Sifat dapat dipercaya dalah ciri kerasulan sejati.

“Aku bertanya kepadamu apakah engkau pernah berperang dengannya dan bagaimana hasilnya. Menurutmu engkau berperang dengannya, kadang engkau yang menang dan kadang dia yang menang dalam urusan duniawi.

“Para nabi tidak pernah selalu menang, tetapi mereka mampu mengatasi masa-masa sulit perjuangannya, pengorbanan, dan kerugian sampai akhirnya mereka memperoleh kemenangan.

“Aku bertanya kepadamu apa yang diperintahkannya, engkau menjawab dia memerintahkanmu untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukanNYA, serta melarangmu untuk menyembah berhala; dan dia menyuruhmu shalat, bicara jujur, serta penuh perhatian. Jika apa yang kaukatakan itu benar, dia akan segera berkuasa di tempat aku memija-kkan kakiku saat ini.”

Heraklius melanjutkan, ”Aku tahu bahwa orang ini akan lahir, tetapi aku tidak tahu bahwa dia akan lahir dari kaummu (Orang Arab). Jika aku tahu aku bisa mendekatinya, aku akan pergi menemuinya. Jika dia ada di sini, aku akan mencuci kedua kakinya.,” (HR. Al-Bukhari).

[sa/islampos/sirah-nabawiyah;pustaka sejarah islam]
http://islampos.com/dia-hanya-mengajakmu-untuk-menyembah-allah/

No comments:

Post a Comment