Showing posts with label poso. Show all posts
Showing posts with label poso. Show all posts

Friday, December 28, 2012

MENGENANG POSO BERDARAH, SELANJUTNYA WASPADALAH!!!


Warga Pesantren Walisongo, nama "Pasukan Kelalawar Hitam" sudah tak asing lagi. Dialah pelaku pembantai santri di pesantren itu ketika tahun 2000. Jumlahnya diperkirakan lebih dari 200.

Ratusan Muslim Poso, khususnya warga Pesantren Walisongo tentu tak akan pernah lupa nama "Pasukan Kelewar Hitam." Sebab dialah sang pelaku pembantaian Muslim Poso di tahun 2000. Tulisan ini merupakan kilas balik investigasi yang pernah dimuat di majalah Hidayatullah.

Puluhan warga Pesantren Walisongo itu dibariskan menghadap Sungai Poso. Mereka dihimpun dalam beberapa kelompok yang saling terikat. Ada yang tiga orang, lima, enam atau delapan orang. Para pemuda digabungkan dengan pemuda dalam satu kelompok. Tangan mereka semua terikat ke belakang dengan kabel, ijuk, atau tali rafiah yang satu dengan lainnya saling ditautkan.

Sebuah aba-aba memerintahkan agar mereka membungkuk. Secepat kilat pedang yang dipegang para algojo haus darah itu memenggal tengkuk mereka. Bersamaan dengan itu, terdengar teriakan takbir. Ada yang kepalanya langsung terlepas, ada pula yang setengah terlepas. Ada yang anggota badannya terpotong, ada pula badannya terbelah. Darah segarpun muncrat. Seketika itu pula tubuh-tubuh yang tidak berdosa itu berjatuhan ke sungai.

Bersamaan dengan terceburnya orang-orang yang dibantai itu, air sungai Poso yang sebelumnya bening berubah warna menjadi merah darah. Sesaat tubuh orang-orang yang dibantai itu menggelepar meregang nyawa sambil mengikuti aliran sungai. Tidak semuanya meninggal seketika, masih ada yang bertahan hidup dan berusaha menyelamatkan diri. Namun regu tembak siap menghabisi nyawa korban sebelum mendapatkan ranting, dahan, batang pisang, atau apapun untuk menyelamatkan diri.

Itulah salah satu babak dalam tragedi pembantaian ummat Islam di Poso, Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu. Warga Pesantren Walisongo merupakan salah satu sasaran yang dibantai. Di komplek pesantren yang terletak di Desa Sintuwulemba, Kecamatan Lage, Poso ini tidak kurang 300-an orang yang tinggal. Mulai dari ustadz , santri, pembina, dan istri pengajar serta anak-anaknya.

Tidak satupun orang yang tersisa di komplek pesantren itu. Sebagian besar dibantai, sebagian lainnya lari ke hutan menyelamatkan diri. Bangunan yang ada dibakar dan diratakan dengan tanah. Pesantren Poso hanya tinggal puing-puing belaka.

Ilham (27) satu-satunya ustadz Pesantren Walisongo yang turut dibantai namun selamat setelah mengapung beberapa kilometer mengikuti aliran sungai Poso, menuturkan kepada majalah Hidayatullah, sebelum dibantai mereka mengalami penyiksaan terlebih dahulu. Mereka dikumpulkan di dalam masjid Al Hirah. Di sanalah warga pesantren Walisongo yang sudah menyerah itu dibantai. Ada yang ditebas lehernya, dipotong anggota badannya, sebelum akhirnya diangkut truk ke pinggir Sungai Poso.

Sungai Poso menjadi saksi bisu pembantaian ummat Islam, khususnya warga Pesantren Walisongo. Mayat-mayat mereka hanyut di Sungai Poso dan terbawa entah sampai ke mana. Belum ada angka yang pasti jumlah korban dalam pembantaian itu.

Seorang warga Kelurahan Kayamanya, Kecamatan Poso Kota, Syahrul Maliki, yang daerahnya dilewati aliran sungai Poso dan terletak sembilan kilometer dari ladang pembantaian, menuturkan kepada Sahid, Dari pagi hingga siang saja, saya menghitung ada 70-an mayat yang hanyut terbawa arus, berikutnya saya tidak menghitung lagi, katanya. Sementara Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU) melaporkan jumlah mayat yang ditemukan di Sungai Poso tidak kurang dari 165 orang.

Tidak hanya lak-laki dewasa, banyak pula yang perempuan, orang tua, dan anak-anak. Biasanya mayat wanita disatukan dengan anak-anak. Ada yang cukup diikat, ada pula yang dimasukkan karung, kata Syahrul. Sebagian besar mayat sudah rusak akibat siksaan.

Menurut Ilham, sebelum diserang, warga pesantren diteror oleh Pasukan Merah ini. Komplek Pesantren Walisongo sering dipanah. Hingga saat ini bekas panah tersebut masih terlihat jelas.

Pembantainya sudah sangat jelas. Mereka adalah orang-orang Kristen yang dikenal sebagai "Pasukan Kelalawar Hitam." Dalam aksinya mereka mengenakan pakaian serba hitam. Salib di dada dan ikat kepala merah. Karena itu pula mereka sering disebut pula sebagai Pasukan Merah. Pembataian itu puncak dari hubungan ummat Islam dan Kristen yang kurang harmonis di kawasan itu. Tercatat sekitar 200 - 400-an orang yang tewas terbantai.

Dalam laporannya, pihak gereja melalui 'Crisis Center GKST untuk Kerusuhan Poso' mengakui dikalangan mereka ada kelompok terlatih yang berpakaian ala ninja ini. Mereka menyebutnya sebagai 'Pejuang Pemulihan Keamanan Poso'.

Ada ciri-ciri yang sama ketika kelompok merah menyerang. Mereka selalu mengenakan pakaian ala ninja yang serba hitam, semua tertutup kecuali mata. Mereka juga mengenakan atribut salib di dada dan ikat kepala merah. Mayat-mayat juga ditemukan selalu dalam kondisi rusak akibat siksaan atau sengaja dicincang hingga tidak dikenal identitasnya. Dalam berbagai penyerangan pasukan merah selalu di atas angin. Karena itu sebagian besar korbannya adalah orang-orang Muslim.

Selain di Pesantren Walisongo penyerangan dan pembantaian juga dilakukan di sejumlah tempat. Tercatat 16 desa yang penduduknya mayoritas Muslim kampungnya hancur dan terbakar. Dari arah selatan Poso, kerusakan hingga mencapai Tentena. Dari arah Timur hingga Malei. Dari arah barat hingga Tamborana.

Temuan Komite Penanggulangan Krisis (Kompak) Ujungpandang yang melakukan investigasi di Poso menunjukkan adanya keterlibatan gereja dalam beberapa kerusuhan. Buktinya Sebelum mereka melakukan penyerangan, mereka menerima pemberkatan dari gereja, kata Agus Dwikarna, ketua Kompak Ujungpandang.

Misalnya pemberkatan yang dilakukan Pendeta Leniy di gereja Silanca (8/6/00) dan Pendeta Rinaldy Damanik di halaman Puskesmas depan Gereja Sinode Tentena. Selain kepada pasukan Kelelawar Hitam, pemberkatan juga diberikan kepada para perusuh. Pemberkatan ini memberikan semangat dan kebencian yang tinggi masyarakat Kristen kepada ummat Islam.

Yang menarik menurut Agus, meskipun mereka mengakui telah membumi hanguskan seluruh perkampungan ummat Islam dan membantai masyarakatnya, Pendeta R Damanik dan Advent Lateka mengadukan ummat Islam sebagai provokator.

Kini kabupaten yang dikenal sebagai penghasil kakau terbesar ini nyaris seperti kota mati karena ditinggal penduduknya mengungsi, bangunan yang ditinggalkan hanya tersisa puing-puing yang beserakan.

Penyerangan terhadap ummat Islam yang berlangsung sejak tanggal 23 Mei lalu, merupakan pertikaian ketiga antara Islam Kristen di Poso. Pertikaian pertama berlangsung pada Desember 1998. Enam belas bulan kemudian, 15 April 2000 pertikaian meledak lagi, yang dipicu perkelaian pemuda Kelurahan Kamayanya (muslim) dengan Lambogia (Kristen).

Dalam penyerangan kali ini kelompok merah yang bergabung dalam pasukan Kelelawar Hitam dipimpin oleh Cornelis Tibo asal Flores menyerang kampung Muslim Kayamanya. Mereka memukul-mukul tiang listrik hingga memancing kemarahan ummat Islam. Selanjutnya mereka mengaiaya ummat Islam di situ dan membunuh Serma Komarudin.

Ummat Islam yang marah mengejar Pasukan Kelelawar Hitam yang lari ke Gereja Katolik Maengkolama. Karena bersembunyi di gereja itu ummat Islam yang marah membakar gereja yang dijadikan tempat persembunyian itu.

Salah satu yang dianggap menjadi penyebab pertikaian adalah konflik politik lokal. Perebutan jabatan Bupati Poso pada Desember 1998 merupakan salah satunya. Herman Parino, tokoh Kristen, gagal merebut jabatan. Namun Herman Parino dan para pendukungnya menuduh Arif Patangga, bupati yang hendak digantikannya, muslim, merekayasa gagalnya Parino.

Karena jengkel, Parino menggalang massa untuk menyerang rumah Patangga. Namun rencana itu sudah tercium sebelumnya, para pendukung Patangga tidak diam dan bersiap menyambut. Bentrokan tidak terelakkan lagi. Dua hari kemudian giliran pendukung Patangga menyerang rumah Parino di desa Tentena. Dalam kerusahan itu polisi langsung menangkap tokoh dari kedua belah pilah, Herman Parino dan Agfar Patangga, adik kandung Arif Patangga yang dianggap memprovokasi massa.

Nampaknya penangkapan Herman Parino yang merupakan tokoh Kristen yang dihormati membuat pendukungnya kecewa. Apalagi Herman lantas dijatuhi hukuman, meskipun Agfar juga dijatuhi hukuman oleh pengadilan negeri Poso. Kasus inilah yang menjadi api dalam sekam. Maka ketika terjadi perkelaian pemuda Islam dan Kristen yang mabuk pada pertengahan April 2000 lalu, kerusuhan pun tidak dapat terhindarkan.

Dipicu kerusuhan pada bulan April, tanggal 23 Mei 2000 pasukan merah melakukan penyerangan ke beberapa perkampungan muslim. Pertikaian tidak hanya sebatas para pendukung Herman Parino dan Arif Patangga. Perkampungan Muslim yang tidak ada kaitannya dengan kerusuhan sebelumnya ikut dihancurkan, warganya dibantai, perempuannya diperkosa.

Selain konflik lokal, sumber intelejen menyatakan bahwa kerusuhan di Poso juga terkait dengan tokoh-tokoh di Jakarta. Salah satu kekuatan yang bermain itu adalah kelompok Soeharto. Indikasinya jika proses hukum Soeharto meningkat, tingkat kerusuhan meningkat. Temuan di lapangan menunjukkan keterlibatan sekitar 70-an purnawirawan TNI dalam melatih pasukan merah. Karena itulah pasukan merah sangat mahir dalam menggunakan berbagai senjata api maupun tangan kosong.

Pihak intelejen menyebutkan, kelompok yang berkepentingan terhadap kerusuhan di Poso ini juga didukung sumber dana yang kuat. Kasus beredarnya milyaran uang palsu dan hilangnya dua kontainer kertas uang yang hingga kini belum ditemukan juga sangat terkait dengan berlangsungnya kerusuhan di Poso ini.

Informasi sumber intelejen tersebut juga dibenarkan oleh Wakapolda Sulawesi Tengah, Kolonel Zaenal Abidin Ishak, yang menyatakan keterlibatan 15 anggota Polres Poso dan enam anggota TNI AD dalam kerusuhan itu. Mereka kini sedang ditahan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Agus Dwikarna tidak percaya bahwa kerusuhan di Poso hanya persoalan gagalnya Herman Parino menjadi bupati. Kalau hanya karena perebutan kursi bupati kenapa ummat Islam yang dibantai, tanya Agus. Ia yakin ada upaya melenyapkan ummat Islam dari bumi Poso.

Apapun penyebabnya, kerusuhan Poso menyebabkan trauma yang mendalam di kalangan orang-orang Muslim di Poso. Sejak kerusuhan itu ribuan ummat Islam menjadi pengungsi di negerinya sendiri.


http://www.facebook.com/photo.php?fbid=313948665384353


==========
Komentar Om Mimin :
bagaimana perasaan kalian wahai pengagung Berhala Garuda dan Bhineka Tunggal Ika..? jawablah wahai MUNAFIQUN ..!! jawablah hai MURTAD.??!!

Jika ada ormas yang mengaku ormas "islam" lalu mengamankan SYIAR KEKAFIRAN NATAL, maka ormas itu adalah ormas IBLIS..! jauhi mereka..! tinggalkan mereka..! mereka adalah MUNAFIQUN..! waspadalah..!!

Sunday, November 4, 2012

Densus 88 Laknatullah, Robek Dada Jenazah Asy-Syahid (Insya Allah) Kholid, Umat Islam Harus Bela!


M Fachry untuk Al-Mustaqbal.net

POSO-Laknat! Kata itu yang hanya pantas untuk Densus 88. Tidak hanya mendzolimi umat Islam dan kaum Muslimin, khususnya Mujahidin, Densus 88 juga memperlakukan jezanah Asy-Syahid Kholid dengan perlakuan keji yakni merobek dada hingga perut pemuda Muslim yang taat, Jum’at (02/11/2012) di Poso, Sulawesi Tengah. Umat Islam harus membela dan membalasnya. Allahu Akbar!

Sebagaimana dikabarkan oleh sumber-sumber Al-Mustaqbal.net, jenazah Asy-Syahid insya Alloh Kholid ketika tiba dirumah, dalam kondisi TELAH DI AMBIL SEBAGIAN ORGAN TUBUHNYA oleh aparat, dan pihak keluarga tidak menerima dan sedang melakukan protes ke pihak kepolisian setempat.

Selain itu, juga terdapat bekas tembakan yang disinyalir dari jarak dekat karena terdapat lubang tembakan dari ubun-ubun kepala hingga tembus dagu.

“Ada bekas tembakan di ubun-ubun tembus di dagu, dada dibelah sampai bagian perut,” ujar seorang warga Kayamaya, Poso.

Khalid sendiri merupakan seorang pegawai negeri sipil departemen kehutanan yang sehari-harinya bertugas sebagai polisi hutan di Poso, Sulawesi Tengah.

Media-media sekuler gencar memberitakan bahwa Khalid sempat memberikan perlawanan saat dirinya hendak ditangkap oleh gerombolan Densus 88 laknatullah, meski fakta di lapangan menunjukkan bahwa Khalid tidak melakukan perlawanan sama sekali.

Bahkan seorang warga Poso, Sulawesi Tengah, yang menyaksikan kronologi penangkapan dan penembakan Khalid mengatakan bahwa Khalid ditangkap sesaat setelah melakukan shalat subuh secara berjamaah di Masjid Al-Muhajirin.

Lebih lanjut saksi mata mengungkapkan bahwa Khalid sempat dilepaskan oleh Densus 88 untuk beberapa saat kemudian dirinya ditembak pada kakinya oleh Densus 88 laknatullah.

Sesaat setelah terjatuh, seorang anggota Densus 88 laknatullah mendekati Khalid dan menembak ubun-ubunnya dari jarak dekat.

“Setelah ditangkap, Khalid disuruh jalan kemudian ditembak kakinya, setelah jatuh, polisi menembak kepala Khalid,” ujar seorang warga yang menyaksikan kronologi penembakan Khalid.

Jenazah Khalid sendiri sempat dimaling oleh Densus 88 laknatullah, bahkan dikabarkan telah tiba di bandara Palu, namun pada Sabtu (03/11) petang telah dipulangkan ke rumah duka di desa Kayamaya, Poso, Sulawesi Tengah.


Sementara itu, kabar terakhir yang baru, kondisi Ustadz Yasin yang saat penangkapan dalam keadaan baik, sekarang dalam keadaan kaki luka tertembak dan keadaannya koma.


Demikianlah kekejaman Densus 88 laknatullah alaihim yang terus saja terjadi berulang-ulang. Kepada semua ikhwan ataupun akhwat yang peduli kepada saudara-saudaranya seiman yang telah di dzalimi aparat-aparat thogut laknatulloh, kami serukan untuk melakukan pembelaan kepada saudara-saudara kita, sampaikan kepada seluruh masyarakat bahwa telah terjadi penganiayaan dan penyiksaan terhadap saudara-saudara seiman di tanah Poso.

Begitu pula kami serukan kepada para tokoh dan pemimpin umat dimana pembelaan kita kepada saudara-saudara kita, demikian himbauan seorang ikhwan melalui akun Fbnya. Allahu Akbar!

(al-mustaqbal.net)

Saturday, November 3, 2012

Forum Islam Al-Busyro Rilis Kabar Terbaru Mujahidin Tamanjeka Nusantara : Kontak Senjata Di Gunung Biru




M Fachry untuk Al-Mustaqbal.net

POSO-Forum Islam Al-Busyro kembali merilis kabar terbaru dari Mujahidin Tamanjeka Poso atau yang merupakan pernyataan Laporan 08, yang kali ini menceritakan Kontak Senjata Di Gunung Biru. Satu orang Mujahidin syahid (Insya Allah), yakni Ustadz Zippo. Allahu Akbar!

Laporan ke-08


Bismillahirrahmanirrahim


Dalam menanggapi kabar tentang Kontak Senjata di Gunung Biru yang mensyahidkan 8 Hizbullah dan menewaskan 4 Hizbus Syaithoon, kami belum mendapatkan kabar yang benar terkait hal ini, dan bisa dipastikan bahwa kabar tersebut tidaklah benar.

Yang terjadi adalah bahwa pada Rabu shubuh terjadi Isytibaak atau Penyergapan di desa Kalora yang mensyahidkan 1 ikhwah bernama ust zippo (nama lainnya akan kami publikasikan di kemudian hari), 2 ikhwah tertembak atas nama Cecep dan Mamat, serta seorang Ikhwah lainnya yang juga berada di tempat tersebut, semoga Allah Ta'ala menguatkan Kesabaran mereka dan meneguhkan mereka di jalan ini hingga Syahid menjemput. Allahumma Amien.

Mereka juga mengadakan Penggrebekan di Sebuah Rumah Kosong di desa Kalora juga, dan tentunya tidak menemukan apa-apa. Bagaimana bisa, Pasukan Elit menggerebek Rumah Kosong...??? Kok bisa...??? Apa memang kerjaan Pasukan Elit memang begitu...??? Pasukan Elit itu harusnya datang ke Tamanjeka dan Gunung Biru, bukannya macam Pengecut dan Banci seperti itu, beraninya cuma sama anak kecil belasan tahun, beraninya menangkapi akhwat-akhwat muslimah, beraninya cuma sama yang tak bersenjata...!!! Memang, kalian itu benar-benar Banci dan Pengecut wahai musuh-musuh Allah...!!!

Adapun 2 ikhwah lainnya yang juga ikut ditawan, kami duga itu adalah Ikhwah di tempat lain, bukan di Kalora, karena kebetulan di tempat lain di waktu yang sama juga ada ikhwah yang ditawan dan sekarang berada di Polda Palu, yang seperti sebelumnya mereka ditawan hanya gara-gara tidak dapat menunjukkan KTP dan satunya lagi KTP nya sudah kadaluarsa, mereka ditawan sebagaimana 2 Ikhwah sebelumnya yaitu Akhi Salman dan Akhi Bakar dengan kasus yang sama, yang kemudian setelah ditawan, mereka baru dikait-kaitkan dengan berbagai hal yang tidak mereka tidak terkait dengan hal itu semua, semoga Allah menguatkan mereka semua.

Isytibaak ini dilakukan oleh Para Thoghut laknatullah sebagai ungkapan Rasa Kekesalan dan Kekecewaan mereka atas terbunuhnya beberapa rekan mereka yang terkena Ranjau Mujahidin di sekitar Tamanjeka sehari dan dua hari sebelumnya, hingga mereka pun dalam waktu singkat terpaksa harus mendatangkan 2 SSK (Satuan Setingkat Kompi) Pasukan Khusus Brimob Kelapa Dua Bidang GAG (Gerilya Anti Gerilya) atau sekitar 200 lebih personel yang kemudian langsung diterbangkan ke Bandara Mutiara Palu Rabu pagi dan sekarang telah berada di Poso dan sekitarnya.

Tak kalah dengan Kepolisian, TNI yang anggotanya juga terkena Ranjau Mujahidin 2 hari sebelumnya akhirnya juga mengirimkan Pasukan Tambahan 2 SSK dari Palu, akan tetapi baru dikirim 100 diantaranya.

Insya Allah dengan idzin dan karunia Nya, Bumi Poso ini akan menjadi Neraka bagi Para Tentaranya Syetan dan menjadi Kuburan yang sangat menyakitkan dan mengenaskan bagi mereka Insya Allah.

Tak lupa kami juga merasa geli dan ingin tertawa mendengar Penyataan si Botak Rafly Amar, yang menyangkal adanya Korban Thoghut dalam menjinakkan Ranjau yang ada. Betapa Bodohnya Pasukan Elit Negara ini, Bicaranya saja yang terlalu tinggi dan muluk-muluk, akan tetapi realitanya NOL BESAR. Bagaimana mereka bisa mengklaim telah "meledakkan" Ranjau di Tamanjeka sedang hal itu bukan karena "meledakkan" Ranjau, akan tetapi karena mereka sedang terkena Ranjau itu sendiri yang akhirnya "meledak" dan mengenai mereka sendiri, yang kemudian saking paniknya mereka pun akhirnya mengeluarkan Rentetan Tembakan yang tak tentu arah seperti orang yang Kesetanan.

Allahu Akbar... Takbiiiiiiiiiiiiiiiirrr...!!!

Jangan lupa untuk selalu mendoakan Para Mujahidin.

Kemenangan Mujahidin insya Allah akan menjadi Masa Depan yang Cemerlang bagi Kaum Muslimin

Poso, 1 November 2012, 21:17 WITA

AMZ melaporkan untuk THORIQUNA

Sumber: Forum Islam Al-Busyro

Tak Jujur Memberitakan, Wartawan Metro TV Hampir Dihakimi Warga Poso


POSO (voa-islam.com) - Warga Poso geram dengan pemberitaan Metro TV yang tidak jujur dengan mengungkapkan terjadi baku tembak saat penangkapan ustadz Yasin dan penembakan Khalid oleh Densus 88 di Poso.

Warga Jalan Sabang Desa Kayamanya Kota Poso yang menyaksikan terjadinya penangkapan tersebut rupanya merasa geram dengan pemberitaan yang sama sekali tidak benar itu.

Padahal menurut warga sekitar yang menyaksikan sama sekali tidak ada perlawanan, sebab Khalid baru saja pulang Shalat Shubuh demikian pula ustadz Yasin.

Sekitar pukul 10.30 WITA atas inisiatif seorang warga guna meluruskan berita tersebut maka diundanglah wartawan Metro TV yang bernama Bayu Prayudhanto untuk meluruskan berita sebenarnya dengan mewawancarai warga yang melihat kejadian dan meminta keterangan dari keluarga Khalid dan keluarga Ustadz Yasin .

Namun, masyarakat yang tengah geram atas tindakan sewenang-wenang Densus 88 dan pemberitaan tidak jujur tersebut kemudian melampiaskan kemarahannya pada Bayu.

Massa dengan serentak tiba-tiba datang untuk menghakimi Bayu. Beruntung sebagian warga yang lain mencoba menenangkan dan menyelamatkan Bayu. Akibat aksi warga yang marah terhadap pemberitaan tak jujur Metro TV tersebut, Kamera yang dibawa oleh Bayu hancur demikian juga dengan mikrofon.

Namun demikian bayu tidak mengalami luka karena dilindungi oleh warga lainnya yang berada di tempat kejadian.

“kamera dan mikrofon wartawan Metro TV hancur dibanting warga yang marah," ujar Yudi warga setempat yang menyaksikan kejadian itu, Sabtu (3/11/2012).

Hingga saat berita ini ditulis sama sekali tidak ada klarifikasi dari pihak Metro TV terkait pemberitaan tersebut.

Sementara Bayu dengan dikawal warga tengah mendampingi keluarga korban penembakan Densus 88 bersama anggota Majelis Ta'lim Masjid Al Muhajirin yang mendatangi Polres Poso guna meminta pemulangan jenazah Khalid yang dibunuh oleh Densus 88. [AF]


http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2012/11/03/21512/tak-jujur-memberitakan-wartawan-metro-tv-hampir-dihakimi-warga-poso/

Densus 88 Arogan Bunuh dan Tangkap Warga, Situasi Poso Memanas

SURIAH DI INDONESIA.....!!!!!

Densus 88 Arogan Bunuh dan Tangkap Warga, Situasi Poso Memanas
======================================

POSO (voa-islam.com) - Tindakan arogan Densus 88 yang menangkap ustadz Yasin dan membunuh Khalid pada Sabtu (03/11/2012) pukul 05.30 WITA memicu amarah warga Muslim Poso.

Kronologis dari kemarahan warga terhadap aparat yang bertindak arogan diawali dari penangkapan dan pembunuhan pagi itu terjadi di Jalan Pulau Sabang Desa Kayamanya Kota Poso. Penangkapan tersebut disaksikan warga dan tanpa perlawanan apalagi baku tembak ataupun pelemparan granat oleh korban seperti yang diberitakan oleh sejumlah media.

Buntut dari penembakan Densus 88 yang saat itu baru pulang shalat shubuh dan tidak melawan sama sekali akhirnya membuat warga Poso marah.

Keadaan Kota Poso semakin memanas setelah keluarga Khalid, korban pembunuhan Densus 88 mendatangi Polres Poso meminta agar jenazah Khalid dikembalikan supaya bisa segera dimakamkan.

Awalnya pihak Polisi melalui Kapolres Poso AKBP Eko Santoso bersikeras tidak mau menyerahkan jenazah Khalid dengan alasan akan dibawa ke Jakarta dan jenazah sekarang sudah berada di Palu. Namun setelah beberapa tokoh masyarakat muslim Poso mendatangi Polres akhirnya pihak Polisi berjanji akan mengembalikan jenazah Khalid ke keluarganya.

Suasana kota Poso memanas ketika selesai shalat dzuhur berjama'ah di masjid Muhajirin warga dihadang oleh Brimob di jalan Pulau Sabang Kayamanya. Keadaan semakin tidak terkendali sampai kemudian terjadi baku lempar antara warga dengan aparat Brimob di pertigaan Kayamanya Jalan Pulau Bangka.

Menghadapi warga yang marah dan melempari aparat dengan batu, aparat Brimob membalas dengan menembakkan gas air mata. Bahkan untuk menghadapi massa tersebut, pasukan Brimob melengkapi pertahanannya dengan dua buah kendaraan Baracuda.

"Brimob menggunakan dua buah baracuda dan gas air mata," ujar Yanto, salah seorang warga Poso, kepada voa-islam.com, Sabtu (3/11/2012).

Akibat bentrokkan warga melawan Polisi keadaan kota Poso lumpuh total. Toko-toko, perkantoran dan pusat perbelanjaan tutup menghentikan kegiatannya. Kondisi Poso yang semakin memanas hingga siang tadi belum ada tanda-tanda akan mereda.

Sementara itu dari informasi yang diperoleh, jenazah Khalid korban pembunuhan oleh Densus 88 sedang dalam perjalanan dari Palu menuju Poso untuk dikembalikan kepada keluarganya. [AF]


http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2012/11/03/21513/densus-88-arogan-bunuh-dan-tangkap-warga-situasi-poso-memanas/

Situasi Mencekam, Warga Poso Minta Umat Islam Panjatkan Doa


POSO (voa-islam.com) - Buntut penangkapan ustadz Yasin dan penembakan seorang warga Poso bernama Khalid akhirnya menimbulkan kerusuhan di kota Poso.

Kondisi kota Poso pun mencekam akibat bentrok antara umat Islam terhadap aparat. Umat Islam Poso turun ke jalan, sementara jalan-jalan diblokir, penuh bekas lemparan batu dan ban yang dibakar.

“Sekarang mencekam, karena aparat bekejar terus, masyarakat semua turun, bakar-bakar ban, dari mulai muka Polres kurang lebih 3 KM dan blokir jalan,” ujar Abdullah, salah seorang warga kota Poso, Sabtu (3/11/2012).

Menurutnya, kemaran warga Poso memuncak akibat penembakan terhadap Khalid yang saat itu baru pulang shalat shubuh. Ia ditangkap hidup-hidup namun tiba-tiba ditembak Densus 88 padahal yang bersangkutan tidak melakukan perlawanan.

“Kita cuma mau minta jenazah saja. Warga benci dengan aparat karena penembakan tadi pagi. Tidak ada perlawanan, dorang salah tembak ini. Ikhwan itu ditangkap hidup-hidup, tapi Densus tembak,” tuturnya.

Hingga siang tadi, massa masih berkonsentrasi di kota Poso. Sementara pihak aparat menerjunkan Densus 88 dibantu Brimob dan baracuda. “Masih konsentrasi ini, masih bakar-bakar, sekitar 300 meter dari saya ada baracuda, Densus 88 dan Brimob,” ungkapnya.

Ekspresi kebencian masyarakat tehadap aparat terlihat dari aksi pengeruskan pos-pos polisi di kota Poso.

Dengan kondisi mencekam seperti ini, warga Poso hanya mengharap pertolongan Allah dan meminta kaum muslimin mendoakan mereka.

“Kepada umat Islam, doakan saja kami di sini, masyarakat di sini juga sudah antusias membela umat Islam,” tutupnya. [El Raid]


http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2012/11/03/21514/situasi-mencekam-warga-poso-minta-umat-islam-panjatkan-doa/

Tuesday, October 16, 2012

korban thoghut yg di tembak mujahidin poso... Allahu akbar!!

Wa laa tahinuu wa laa tahzanuu wa antumul a'launa inkuntum mu'miniin

korban thoghut yg di tembak mujahidin poso...
Allahu akbar!!