Showing posts with label Ahmadinejad. Show all posts
Showing posts with label Ahmadinejad. Show all posts

Tuesday, December 25, 2012

Ahmadinejad, Makar Syi’ah, dan Perang Akhir Zaman


Arrahmah.com - Kagum dengan kepemimpinan Ahmadinejad? Terinspirasi dengan Revolusi Iran? Itulah makar Syi’ah dan tipuan Dajjal menjelang perang akhir zaman. Sebagaimana karakter Dajjal penipu dan pendusta, maka para pengikutnyapun melakukan hal yang sama. Al Haq (kebenaran) disalahkan dan al bathil (kesesatan) dibela. Di tangan Dajjal, air menjadi api dan api menjadi air, bersama Dajjal surga dan neraka, namun nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka. Kaum Muslimin tidak boleh tertipu dengan penampilan “luar” Ahmadinejad yang memesona, tapi lihatlah “dalam”nya makar syi’ah sebagaimana tipu daya Dajjal di akhir zaman. Waspadalah!

Ahmadinejad, turunan Yahudi pembela Israel!

Mengapa banyak kaum Muslimin terkagum-kagum pada Ahmadinejad, pemimpin negara syi’ah Iran dan menganggapnya sebagai seorang pahlawan Islam? Inilah salah satu keberhasilan tipu daya Dajjal menjelang akhir zaman. Fitnah Dajjal adalah fitnah terbesar sepanjang perjalanan hidup manusia di muka bumi sampai hari kiamat tiba. Salah satu fitnah Dajjal yang “aneh” yang diciptakan Allah SWT., adalah melakukan penipuan dengan mengubah wujud seseorang.

Siapa menyangka, Ahmadinejad yang lahir pada 28 Oktober 1956 adalah keturunan Yahudi. Dia sebenarnya adalah “Sabourjian” yang berarti penenun dari Sabour, nama untuk selendang Tallit Yahudi di Persia. Namanya berubah menjadi Ahmadinejad ketika dikonversi untuk memeluk Islam setelah kelahirannya.

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam tulisan berjudul “Hakekat Ahmadinejad: Mengungkap tabir hitam pemimpin syi'ah Ahmadinejad” seorang ahli yang berpusat di London Yahudi Iran mengatakan, “Dia telah mengubah namanya karena alasan agama, atau setidaknya orangtuanya,” kata kelahiran Yahudi Iran yang tinggal di London itu . “Sabourjian dikenal sebagai nama Yahudi di Iran.”

Tipuan Dajjal berikutnya yang dijalankan para pengikutnya adalah dagelan atau sandiwara politik Iran melawan Amerika. Umat Islam dikecoh dan diperdaya dengan mengesankan Ahmadinejad adalah pemimpin yang anti Amerika, anti Israel, dan membela Palistina. Semua itu adalah dusta, tipuan Dajjal menjelang akhir zaman.

Ahmadinejad, Syi’ah dengan kekuatan negara Iran, dibantu sekutu sejatinya, media-media Barat, telah menjalankan skenario Dajjal menipu umat Islam dengan membesar-besarkan Ahmadinejad, Syi’ah, dan Iran. Sebagai bukti, ketika Ahmadinejad berpidato di Universitas Harvard, media-media Amerika langsung meliput dan menyiarkan langsung pidato tersebut. Padahal selama ini tidak ada Presiden yang diperlakukan seperti itu, ujar Rizki Ridyasmara, mantan wartawan Sabili.

AS dan Iran, kata mantan aktivis kiri itu, saat ini hanyalah memainkan peran 'polisi jahat' dan 'polisi baik'. Polisi Jahat, kata Rizki, dimainkan oleh AS sedangkan 'Polisi Baik' dimainkan oleh Iran. "Mereka seolah-olah mau perang, padahal sebenarnya 'cincai'".

Rizki berkesimpulan seperti itu setelah memaparkan panjang lebar tentang keberadaan dan konspirasi antara pasukan elit Syi’ah, Assassins (Hashyashyin), dengan pasukan Salib "Knights Templar". Menurut Rizki, sejak berdiri, masa berjaya, bubar hingga menyebar ke penjuru dunia, kedua jenis pasukan elit itu terus melakukan konspirasi.

"Banyak sejarawan Barat yang menuding di antara kedua sekte khusus pencabut nyawa ini sesungguhnya terjalin satu kerjasama dalam bentuk yang tersembunyi. Salah satu yang memunculkan dugaan ini adalah Profesor Carole Hillenbrand, Guru Besar Studi Islam dan Bahasa Arab University Edinburgh, Skotlandia", kata jurnalis spesialis investigasi itu.

Pengamat Syi’ah Prof DR.H.Mohammad Baharun, SH,MA mengaku heran, jika banyak umat Islam terkagum-kagum dengan Revolusi Iran. Ia mempertanyakan, apakah benar Revolusi Iran itu Revolusi Islam? Kenyataannya, sejarah mencatat, Revolusi Iran justru memakan anak kandungnya sendiri. Revolusi tersebut mengorbankan ratusan manusia, mulai dari anak-anak, wanita, hingga orang tua.

Di bawah kepemimpinan Ahmadinejad, kaum Muslimin Sunni di Iran mengalami penderitaan yang belum pernah dialami sejak Revolusi Rafidi Khomeini. Parahnya lagi, Ahmadinejad yang dianggap pahlawan Islam yang anti AS, ternyata secara terang-terangan menghina dua orang sahabat Rasulullah Muhammad SAW.

Pernyataan tersebut disampaikannya dalam sebuah acara televisi secara langsung di Shabaka 3, saluran televisi Iran, hanya beberapa hari sebelum pelaksanaan pemilu Iran. Dalam acara itu, Ahmadinejad dengan lugas mengatakan bahwa Talhah dan Zubair adalah dua orang pengkhianat. “Talhah dan Zubair adalah dua orang sahabat Rasul, tapi setelah kepergian Rasul, mereka berdua kembali kepada ajaran sebelumnya dan mengikuti Muawiyah!”

Kebohongan berikutnya Ahmadinejad adalah ketika mengatakan hapus peta Israel di dunia! Bagaimana mungkin, turunan Yahudi tersebut akan menghapus Israel? Padahal, satu butir pelurupun tidak pernah ditembakkan Iran ke zionis Yahudi Israel, apalagi peluru kendali atau nuklir. Mustahil!

Apalagi sudah banyak bukti yang menjelaskan hubungan gelap antara Ahmadinejad dengan Israel. Seorang ulama Syiah mengatakan presiden Iran ingin menjalin “persahabatan dengan Israel,” . Menurut ulama Syiah Mahmud Nubia, penasehat teras atas Ahmadinejad, Esfandiar Rahim Mashaei tiga tahun lalu menyatakan bahwa Iran harus memiliki “hubungan yang bersahabat” dengan Negara Yahudi, namun Ahmadinejad menahan diri dari persoalan ini di depan umum karena pemimpin tinggi Syiah Iran Ayatollah Ali Khamenei sangat keberatan dengan hal ini.

Menurut Husain Ali Hasyimi, dalam tulisannya, Al-Harbul Musytarakah Iran wa Israil bahwa sejak zaman Syiah Pahlevi, Iran telah menjalin hubungan perdagangan dengan Zionis Yahudi. Dan hubungan dagang ini berkelanjutan hingga setelah revolusi Syiah yang dipimpin oleh Khumaini.

Jadi, perlawanan semacam apa yang telah dilakukan Ahmadinejad kepada Amerika dan yahudi Israel? Kalaulah memang Ahmadinejad serius melawan Amerika dan menjadikan Amerika sebagai musuh utamanya, mengapa tidak ada tindakan kongkrit darinya, misalnya dengan membantu puluhan ribu mujahidin Afghanistan yang saat ini sedang mengusir Amerika dan cengkraman zionis Israel? Padahal, Afghanistan tidak jauh dari Iran, bahkan berbatasan langsung.

Yang terjadi justru sebaliknya. Satu contoh saja, kita ketahui bersama hubungan Ahmadinejad dengan Nouri Al Maliki dekat sekali. Padahal Nouri adalah kaki tangan Amerika dan Israel di Irak, dan musuh mujahidin Irak yang berada di Daulah Islam Irak. Jadi amat wajar jika spekulasi kemudian berkembang: apakah karena Nouri Al Maliki juga orang Syiah?

Bahkan 18 April lalu, lima belas orang tewas di Ahwaz, Iran oleh pasukan keamanan Iran didukung oleh milisi pakaian sipil. Mereka melakukan serangan terhadap aksi demonstrasi dengan kekerasan yang menuntut hak bagi mayoritas etnis Arab di provinsi Khuzestan Iran yang berpenduduk mayoritas Sunni.

Kalaulah Iran masih menganggap Sunni adalah saudaranya kenapa harus dengan membunuh, bukankah lebih baik senjata itu diarahkan kepada musuh sebenarnya yakni Gedung Putih yang kini bercokol di Irak, Afghanistan, dan Palestina?

Hal ini semakin membuktikan bahwa Iran, yang tak lebih besar dari pada Iraq yang sudah digempur habis-habisan oleh AS dan sekutunya masih baik-baik saja. Dalam artian, AS tidak pernah melakukan suatu tindakan yang nyata terhadap Iran. Karena semua itu adalah sandiwara dagelan politik belaka dan merupakan tipuan dari fitnah Dajjal di akhir zaman. Wallahu’alam bis showab!

Makar Syi’ah dan Perang Akhir Zaman

Kembali kepada Dajjal, sang pembawa fitnah akhir zaman. Dari sisi bahasa, makna Dajjal berarti banyak berdusta dan menipu. Siapa pun yang banyak berdusta dan menipu, ada pengikutnya ataupun tidak, maka dia adalah Dajjal.

Demikianlah yang diistilahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mereka. Beliau menjelaskan hal ini dalam banyak hadits seperti yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam dua tempat (no. 3340 dalam Kitabul Manaqib dan no. 6588 dalam Kitab Al-Fitan) dan Muslim rahimahullahu dalam dua tempat (no. 8 dalam Muqaddimah dan no. 5205 dalam Kitab Al-Fitan Wa Asyrathis Sa’ah) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

“Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga dua kelompok besar saling berperang dan banyak terbunuh di antara dua kelompok tersebut, yang seruan mereka adalah satu. Dan hingga dibangkitkannya para Dajjal lagi pendusta hampir 30 orang, semuanya mengaku bahwa dirinya Rasulullah, dicabutnya ilmu, banyak terjadi gempa, zaman berdekatan, fitnah menjadi muncul, banyak terjadi pembunuhan, berlimpah ruahnya harta di tengah kalian sehingga para pemilik harta bingung terhadap orang yang akan menerima shadaqahnya. Sampai dia berusaha menawarkannya kepada seseorang namun orang tersebut berkata: ‘Saya tidak membutuhkannya’; orang berlomba-lomba dalam meninggikan bangunan. Ketika seseorang lewat pada sebuah kuburan dia berkata: ‘Aduhai jika saya berada di sana’; terbitnya matahari dari sebelah barat dan apabila terbit dari sebelah barat di saat orang-orang melihatnya, mereka beriman seluruhnya (maka itulah waktu yang tidak bermanfaat keimanan bagi setiap orang yang sebelumnya dia tidak beriman atau dia tidak berbuat kebaikan dengan keimanannya).”

Dari keterangan di atas jelaslah bahwa kata Dajjal sering dipakai untuk menamai seseorang yang banyak berdusta dan banyak menipu umat. Para dedengkot kesesatan yang memproklamirkan diri sebagai nabi setelah Rasulullah SAW., adalah para Dajjal.

Sedangkan apabila disebutkan Dajjal secara mutlak, tanpa keterangan tambahan, maka tidak ada yang tergambar dalam benak setiap orang melainkan Ad-Dajjal Al-Akbar (yang terbesar), yang akan muncul di akhir zaman sebagai tanda dekatnya hari kiamat dengan sifat-sifat yang sudah jelas sebagaimana dijelaskan Rasulullah SAW.

Makar Syi’ah yang paling dahsyat di akhir zaman dan kini mulai terungkap adalah kerjasamanya dengan Amerika dalam Perang Salib. Artinya, diwaktu para mujahidin berusaha untuk bergabung dari seluruh penjuru dunia Islam dan menyatukan barisan mereka dalam menghadapi pasukan Zionis Salibis, Syi’ah malah berkhianat, membuat makar untuk menghantam kaum Muslimin.

Dalam buku “Fakta-Fakta Sewindu Perang Salib Baru” Syekh Aiman Azh-Zhawahiri (hfz) mengungkap hakikat Syiah dan perannya membantu Amerika dalam Perang Salib.

“Hal itu terus terjadi, hingga menjadi lebih buruk lagi dengan memberikan fasilitas kepada pasukan Amerika untuk menyerang Iraq dan Afghanistan. Kemudian memberikan bantuan kepada kedua pemerintahan bonekanya dengan mengakui eksistensinya, mengusir Syekh Hikmaktyar-semoga Allah menjaganya-dari Iran ketika Karzai menyebutnya sebagai pengkhianat. Kemudian dia menggunakan kekuasaannya dengan sikap kooperatif bersama pemerintahan boneka Iraq untuk memerangi mujahidin lalu lari pada hari peperangan dengan melarang dakwah menuju jihad melawan Amerika di Iraq dan Afghanistan. Sebelumnya telah saya sebutkan bahwa pemerintahan Iran memberikan bantuan kepada Ahmad Syah Mas’ud yang telah diakui oleh Amerika secara resmi sebagai anteknya, di dalam laporan konggres setelah kejadian 11 September.”

DR. Abdullah An Nafisi menjelaskan politik Iran : “Iran bertanggung jawab atas hal itu, karena Iran di antara dua isu, isu membuka diri yaitu isu Islam dan isu umum yaitu isu anti Amerika, anti Israel dan seterusnya. Ini sudah mafhum dan dapat diterima. Akan tetapi isu berkaitan rakyat Iran sebenarnya memiliki isu lain : isu kekuasaan, isu kontrol, isu penugasan Syiah di Iraq.

Aku tidak percaya bahwa rencana Iran adalah rencana Syiah selamanya. Bukan! Itu adalah rencana Persia di dalam negeri Iraq (nasionalisme). Ya, menugaskan Syiah di Iraq demi kemaslahatan rencana Persia Iran.”

Kalau begitu, Syi’ah adalah ancaman paling nyata di akhir zaman. Perkembangan demi perkembangan, khususnya di Timur Tengah semakin memantapkan bahaya dan ancaman besar Syi’ah dan Iran.

Sejarah akan berulang. Jika di masa lalu, persaingan laten terjadi antara Arab dan Persia, hari ini, sejarah berulang. Orang-orang Arab yang diwakili oleh Arab Saudi dan Persia diwakili oleh Iran. Iran, alias Syi’ah, sejak dahulu, selalu menjadi penyebab utama masalah, Syi’ah ditakdirkan untuk menjadi lahan subur bagi perluasan berbagai penyimpangan dan kejahatan. Ini tidak mengherankan dalam sejarah Persia, mereka paling sering melibatkan diri dan selalu saling kooperatif dengan orang-orang Zionis-Yahudi, Israel.

Sebagaimana dalam “Antara Syi’ah, Barat, dan Jihad Global”, dijelaskan bahwa Iran dengan Syi’ahnya saat ini berada dalam zaman keemasan. Sejak berhenti melancarkan perang melawan Irak di 80-an, konsentrasi prakteknya hanya menyebarkan pengaruh melalui ajaran-ajarannya ke seluruh daerah, bahkan dunia.

Iran dengan Syi’ahnya yang akan terus mengepakkan sayapnya ke sejumlah wilayah di Timur Tengah dan Afrika Utara untuk menanamkan hegemoninya. Era pergolakan dan hasil sesudahnya, dalam bentuk keterbukaan, dapat dimanfaatkan untuk potensi penuh oleh Iran, pada saat negara-negara regional lainnya yang mayoritas Sunni sibuk dengan bisnis mereka sendiri.

Sementara itu, Ketika Al-Qaeda dan para aktivis jihad global sedang diuji dalam hal ketahanan mereka, dengan memerangi melawan negara adidaya dunia – Amerika – di beberapa tempat sekaligus, Syi’ah dengan dukungan Iran sudah menggeliat dan siap menunggu menjadi musuh berikutnya.

Peperangan antara aktivis jihad global yang saat ini diwakili oleh Al Qaeda tidak bisa dihindari berhadapan dengan Syi’ah Iran yang menjadi antek dan kaki tangan Amerika beserta sekutu-sekutunya dalam perang salib.

Hal ini mengingat tujuan utama Iran sebenarnya adalah mencari pengaruh politik di manapun yang memungkinkan. Syekh Aiman menjelaskan kondisi Lebanon setelah terjadi perang dengan Israel :

“Ketika terjadi perang di Lebanon yang mampu meraih eksistensi politik bagi pengikutnya, maka mereka ikut berperang dan ketika pasukan internasional menyanggupi untuk menjaga keberadaan politik dan militer mereka maka mereka menyetujui pasukan internasional menjajah Lebanon. Mereka juga setuju menggunakan cara kekerasan bagi Palestina, dimana Hassan Nashrullah mengaku sudah begitu lama berusaha untuk membebaskannya, akan tetapi sekarang dia menghindar darinya. Dan ketika bersepakat dengan Amerika dan mengakui akan pemerintahan mereka serta kerjasama dalam pemerintahan dan menghentikan jihad kaum Muslimin, serta berperang dibawah Salib mereka, mewujudkan sikap politik mereka di Iraq dan selalu berusaha mencarinya, mereka berkerjasama dengan Amerika dan berperang di bawah Salib mereka.”

Pasukan Panji Hitam, Generasi Yang Dijanjikan

Perang akhir zaman, atau Al Malhamah Al Kubro, akan terjadi antara pasukan Al Mahdi yang sering disebut sebagai pasukan panji hitam, berhadapan dengan pasukan Dajjal yang dibantu sekutu-sekutunya.

Dalam sebuah riwayat tentang Thaifah manshurah disebutkan, “Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang berperang di atas kebenaran. Mereka meraih kemenangan atas orang-orang yang memerangi mereka, sampai akhirnya kelompok terakhir mereka memerangi Dajjal.” (HR. Abu Daud: Kitab al-jihad no. 2125, Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 1959.)

Riwayat tersebut menjelaskan bahwa di akhir zaman, kelompok Thaifah Manshurah adalah mereka yang bergabung dengan Al-Mahdi untuk memerangi musuh-musuh Islam, dimana Dajjal adalah salah satu yang akan dikalahkan oleh kelompok ini.

Parameter kebenaran saat itulah adalah mereka yang bersama Al-Mahdi, sedang mereka yang menolak Al-Mahdi adalah munafik (hal itu sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadits fitnah duhaima’). Sedangkan kelompok Thaifah Manshurah yang memberikan dukungan kepada Al-Mahdi telah dijelaskan ciri-ciri mereka dalam beberapa riwayat yang kemudian dikenal dengan nama Ashabu Rayati Suud atau Pasukan Panji Hitam dari Khurasan.

Lalu siapakah mereka yang disebut sebagai Pasukan Panji Hitam? Apakah mereka semua itu adalah aktivis jihad global yang tergabung dalam Al Qaeda, dan juga Taliban?

Tidak bisa dipungkiri, aktivitas jihad global saat ini yang diprakarsai oleh Al Qaeda dalam melawan hegemoni Amerika, dan antek-anteknya, termasuk kelompok sesat dan pengkhianat Syi’ah telah membuat gentar Barat dan sekutu-sekutu mereka.

Cita-cita mereka juga mencengangkan, menegakkan negara Islam, Khilafah Islamiyyah, dari ujung Asia Tenggara hingga barat Maroko. Mereka adalah kaum Muslimin yang saat ini paling kuat melaksanakan hukum Islam sebagaimana yang pernah berlaku di Madinah pada masa Rasulullah SAW.

Merekalah satu-satunya kelompok yang paling mendekati gambaran kehidupan Rasulullah SAW., dan para sahabatnya; beriman, hijrah, perang, mendirikan daulah Islam, melaksanakan semua kewajiban tanpa terkecuali, mendapat boikot dan kecaman internasional, mendapat ujian paling berat dan menyatakan keimanannya, dikepung oleh pasukan ahzab dan banyak lagi sejarah kehidupan generasi assabiqunal awwalun yang hari ini tergambar dalam realitas hidup mereka.

Beberapa analis pemerhati hadits-hadits fitnah menduga; bahwa merekalah yang lebih layak untuk menyandang gelar kehormatan itu (Ath Thoifah Al Manshurah) sesuai dengan beratnya ujian keimanan yang mereka hadapi.

Saat ini, Al-Qaeda dan seluruh anasirnya yang sangat komitmen menegakkan semua bentuk syari’at Islam dalam masyarakatnya sangat wajar bila dibenci oleh bangsa Barat. Termasuk sebagian kaum Muslimin yang termakan oleh isu dan propaganda bangsa barat yang dibisikkan Dajjal tentang “kekejian dan kejahatan” mereka.

Padahal, bukan tidak mungkin, tanpa bermaksud memastikan, aktivis jihad global yang dijalankan oleh Al Qaeda dan Mujahidin lainnya tersebutlah yang dimaksud sebagai Pasukan Panji Hitam dari Khurasan, yang dijanjikan kelak akan menjadi pasukannya Al Mahdi, lalu memerangi Dajjal dan para pengikutnya dalam Perang Akhir Zaman (Al Malhamah Al Kubro). Wallahu’alam bis showab! (Muhammad Fachry)
 

Hakekat Ahmadinejad: Mengungkap tabir hitam pemimpin syi'ah Ahmadinejad



Arrahmah.com - Siapa yang tak kenal sosok Ahmadinejad, seorang presiden Iran yang berani terhadap hegemoni Amerika Serikat dan figur yang sangat bersahaja dalam kehidupannya. Banyak dari kalangan kaum muslimin mengelu-elukan seorang Ahmadinejad yang dianggap representasi pemimpin sejati.

Namun, masyarakat muslim sangat jarang mengetahui sosok sejati Ahmadinejad, baik sebagai pribadi ataupun sebagai presiden Iran dengan posisi pengambil kebijakan.

Sebelum membahas lebih jauh terkait sikap Ahmadinejad terhadap Israel, ada baiknya kita mengulas asal-usul pria tersebut.

Mahmoud Ahmadinejad atau bisa dibaca Ahmadinezhad (bahasa Persia: ; lahir 28 Oktober 1956) adalah Presiden Iran yang keenam. Jabatan kepresidenannya dimulai pada 3 Agustus 2005. Ia pernah menjabat walikota Teheran dari 3 Mei 2003 hingga 28 Juni 2005 waktu ia terpilih sebagai presiden. Ia dikenal secara luas sebagai seorang tokoh konservatif yang mempunyai pandangan Islamis.

Lahir di desa pertanian Aradan, dekat Garmsar, sekitar 100 km dari Teheran, sebagai putra seorang pandai besi, keluarganya pindah ke Teheran saat dia berusia satu tahun. Dia lulus dari Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST) dengan gelar doktor dalam bidang teknik dan perencanaan lalu lintas dan transportasi.

Pada tahun 1980, dia adalah ketua perwakilan IUST untuk perkumpulan mahasiswa, dan terlibat dalam pendirian Kantor untuk Pereratan Persatuan (daftar-e tahkim-e vahdat), organisasi mahasiswa yang berada di balik perebutan Kedubes Amerika Serikat yang mengakibatkan terjadinya krisis sandera Iran.

Pada masa Perang Iran-Irak, Ahmedinejad bergabung dengan Korps Pengawal Revolusi Islam pada tahun 1986. Dia terlibat dalam misi-misi di Kirkuk, Irak. Dia kemudian menjadi insinyur kepala pasukan keenam Korps dan kepala staf Korps di sebelah barat Iran. Setelah perang, dia bertugas sebagai wakil gubernur dan gubernur Maku dan Khoy, Penasehat Menteri Kebudayaan dan Ajaran Islam, dan gubernur provinsi Ardabil dari 1993 hingga Oktober 1997.

Ahmadinejad sewaktu kuliah

Ahmadinejad lalu terpilih sebagai walikota Teheran pada Mei 2003. Dalam masa tugasnya, dia mengembalikan banyak perubahan yang dilakukan walikota-walikota sebelumnya yang lebih moderat dan reformis, dan mementingkan nilai-nilai keagamaan dalam kegiatan-kegiatan di pusat-pusat kebudayaan. Selain itu, dia juga menjadi semacam manajer dalam harian Hamshahri dan memecat sang editor, Mohammad Atrianfar, pada 13 Juni 2005, beberapa hari sebelum pemilu presiden, karena tidak mendukungnya dalam pemilu tersebut.

Keturunan Yahudi

Pada 2009 Telegraph.co.uk—harian berita dari Inggris—menurunkan berita yang cukup mengejutkan. Sebuah foto Presiden Iran Ahmadinejad sambil mengangkat kartu identitasnya selama pemilihan umum Maret 2008 dengan jelas menunjukkan keluarganya memiliki akar Yahudi. Dokumen close-up itu mengungkapkan dia sebelumnya dikenal sebagai Sabourjian – atau kain tenun dalam arti nama bahasa Yahudi.

Sebuah catatan pendek yang tertulis di kartu itu menunjukkan keluarganya berubah nama menjadi Ahmadinejad, ketika mereka dikonversi untuk memeluk Islam setelah kelahirannya. Sabourjian berasal dari Aradan, tempat kelahiran Ahmadinejad, dan nama itu diturunkan dari "penenun dari Sabour", nama untuk selendang Tallit Yahudi di Persia. Nama ini, ada dalam daftar nama cipta untuk orang Yahudi di Iran, menurut Departmen Dalam Negeri Iran.

Ali Nourizadeh, dari Pusat Studi Arab dan Iran, mengatakan: "Aspek latar belakang Ahmadinejad menjelaskan banyak tentang dirinya. Dengan membuat pernyataan-pernyataan anti-Israel, ia sedang mencoba untuk menumpahkan kecurigaan tentang hubungannya dengan Yahudi. Ia merasa rentan dalam masyarakat Syiah yang radikal."

Seorang ahli yang berpusat di London Yahudi Iran mengatakan, "Dia telah mengubah namanya karena alasan agama, atau setidaknya orangtuanya," kata kelahiran Yahudi Iran yang tinggal di London itu . "Sabourjian dikenal sebagai nama Yahudi di Iran."

Ahmadinejad tidak menyangkal namanya berubah ketika keluarganya pindah ke Teheran pada tahun 1950-an. Tapi dia tidak pernah mengungkapkan perubahan berhubungan dengan pergantian keyakinan. Ahmadinejad tumbuh menjadi insinyur yang memenuhi syarat dengan gelar doktor dalam manajemen. Sebelum terjun jadi politisi, Ahmadinejad bertugas sebagai tentara pada Pengawal Revolusi.

Selama debat presiden di televisi tahun ini, ia dipancing untuk mengakui bahwa namanya telah berubah tapi ia mengabaikannya. Mehdi Khazali, seorang blogger internet, yang menyerukan penyelidikan akar nama Presiden Ahmadinejad ditangkap musim panas ini.

Sikap Ahmadinejad terhadap Islam

Timbulah pertanyaan, apakah darah yahudi yang mengalir di diri Ahmadinejad, membawa serta ideology dan sifat Yahudi yang membenci Islam dan kaum muslimin?.

Ternyata dugaan anda tidak salah, Ahmadinejad sebelumnya mengeluarkan pernyataan yang terang-terangan menghina dua orang sahabat Rasulullah Muhammad saw.

Kecaman dan hinaan Ahmadinejad itu disampaikan dalam sebuah acara televisi secara langsung di Shabaka 3, saluran televisi Iran, hanya beberapa hari sebelum pelaksanaan pemilu Iran.

Seperti yang diketahui, Iran yang berbasis Syiah ini sudah sejak lama mempersempit ruang gerak para jamaah ahli Sunnah (kaum Sunni). Di bawah kepemimpinan Ahmadinejad, bahkan para jamaah Sunni mengalami penderitaan yang belum pernah dialami sejak Revolusi Syiah Rafidhah Khomeini.

Dalam acara itu, Ahmadinejad dengan lugas mengatakan bahwa Talhah dan Zubair adalah dua orang pengkhianat. “Talhah dan Zubair adalah dua orang sahabat Rasul, tapi setelah kepergian Rasul, mereka berdua kembali kepada ajaran sebelumnya dan mengikuti Muawiyah!”

Padahal dalam sejarah, Talhah dan Zubair, dua orang sahabat Rasul itu, tak pernah bertempur dengan Muawiyah, karena keduanya meninggal lama sebelum peperangan Jamal di tahun ke-36 kekhalifahan Islam di mana Muawiyah menjadi rajanya.

Pernyataan Ahmadinejad ini sudah jelas kemana arahnya, yaitu membuat sebuah perbandingan atas sahabat Rasul dulu dengan kejadian politik saat ini di Iran—berkaitan dengan rivalnya Mousavi. Sebelumnya, Ahmadinejad juga sangat sering menghina sekitar 15 juta penganut Sunni di Iran. Inilah sosok asli Ahmadinejad yang merupakan musuh terbuka terhadap para sahabat Rasul.

Bukan sebagai pejuang Islam, seperti yang selama ini diduga oleh sebagian kaum muslimin dan pendukungnya yang bodoh. Mengapa demikian? Meminjam Istilah Ustadz Hartono Ahmad Jais, tidak mungkin pejuang merobohkan masjid-masjid justru seharusnya pejuang Islam membangun masjid sebagai tempat bertaqarrub kepada Allah.

Sikap Iran terhadap Islam (Sunni) lebih kejam dibanding sikap negeri-negeri kafir sekalipun. Hingga di Iran terutama ibukotanya, Teheran, tidak ada masjid Islam (Sunni). Hingga Ummat Islam (Sunni) bila berjum’atan maka ke kedutaan-kedutaan Negara-negara Timur Tengah di Teheran. Tidak ada pula Madrasah Islam (Sunni). Karena semuanya sudah dihancurkan. Para ulama Sunni pun sudah disembelihi atau dibunuhi. (Lihat Ma’satu Ahlis Sunnah fi Iran, oleh Abu Sulaiman Abdul Munim bin Mahmud Al-Balusy, diindonesiakan dengan judul Kedholiman Syi’ah terhadap Ahlus Sunnah di Iran, LPPI, Jakarta, 1420H/ 1999).

Di Iran tidak ada pula anggota parlemen dari Islam (Sunni) apalagi menteri. Padahal dari Yahudi diberi prioritas jadi anggota parlemen, punya tempat-tempat ibadah (sinagog) dan sekolah-sekolah Yahudi di Iran.

Ulama Syiah terkemuka Iran, Taskhiri, pernah ditanya wartawan di satu negeri di Afrika Utara, apakah tidak boleh di Iran didirikan Masjid Islam Sunni. Pertanyaan itu dijawab, sampai sekarang belum saatnya.

Demikianlah kenyataan di Iran. Ummat Islam Sunni sekitar 20 persen namun tidak diberi hak-haknya alias telah dirampas, dan bahkan lebih kejam dibanding sikap orang kafir di berbagai negeri yang kenyataannya rata-rata masih ada di mana-mana masjid Ummat Islam (Sunni). Sedang di Iran justru masjid-masjid Islam Sunni dihancurkan, ulamanya dibunuhi. Mulutnya berkoar mengecam Yahudi, namun tindakannya justru menikam Islam (Sunni alias Ahlus Sunnah).



Ahmadinejad sujud didepan kubur Khumanei

Tak hanya demikian, pada masa pemerintahan Ahmadinejad perempuan-perempuan sunni yang ditahan rezim Syi’ah Iran ini mengalami penderitaan yang sangat berat dengan dimut’ah paksa oleh milisi Basij terlebih dahulu sebelum dihukum mati, karena keyakinan syi’ah mereka yang dihukum mati dalam keadaan perawan akan masuk surga, dan mereka pun tidak menginginkan surga tersebut diraih oleh perempuan sunni.

Sikap Ahmadinejad terhadap Al Aqsha

Hapus peta Israel di dunia! Itulah kata-kata Ahmadinejad yang pernah menggemparkan jagad politik international. Sungguh berani, tapi sayangnya tidak diiringi dengan perilaku yang serupa.

Mahmud Ahmadinejad pernah memberi hadiah kepada seorang penulis buku sekaligus seorang ulama besar Syiah abad ini, yakni Jafar Murtada Al Amili, yang telah menulis sebuah buku berjudul ”Ayna Masjid al-Aqsha?” (Di Manakah Masjid Al Aqsha?) yang intinya mengungkapkan bahwa keberadaan Masjid Al-Aqsha yang sesungguhnya bukanlah di bumi Al-Quds, melainkan di langit . Dan menganggap masjid mereka di Kuffah lebih baik dai Al-Aqsha seperti tertulis dalam kitab rujukan Syiah Biharul Anwar.Buku tersebut ditetapkan yang terbaik di Iran.

Ahmadinejad bersama Jafar Murtada Al Amili

Pemberian hadiah tersebut menyiratkan bahwa, Ahmadinejad menyetujui isi buku tersebut yang menolak klaim bahwa sahabat Umar bin Khottob Ra telah membebaskan Al Aqsha dari bangsa Romawi, karena dianggap Rasulullah SAW tidak melakukan perjalanan darat ke Al Aqsha tetapi pada saat perjalanan menuju ke langit(mi’raj).

Ahmadinejad bersama para ulama'-ulama' Syiah

Lantas pertanyaannya, apakah mungkin Ahmadinejad akan terlibat dalam perjuangan pembebasan masjid Al Aqsha sedangkan ia berpendapat masjid tersebut berada diatas langit ?

Hubungan Gelap Dengan Israel

Seorang ulama Syiah mengatakan presiden Iran ingin menjalin "persahabatan dengan Israel," . Menurut ulama Syiah Mahmud Nubia , penasehat teras atas Ahmadinejad, Esfandiar Rahim Mashaei tiga tahun lalu menyatakan bahwa Iran harus memiliki "hubungan yang bersahabat" dengan Negara Yahudi, namun Ahmadinejad menahan diri dari persoalan ini di depan umum karena pemimpin tinggi Syiah Iran Ayatollah Ali Khamenei sangat keberatan dengan hal ini.

Nubia lebih lanjut menyatakan bahwa Presiden Iran secara pribadi mengatakan kepadanya bahwa ia mendukung pernyataan Mashaei, tapi tidak bisa berkata apa-apa karena menghormati pemimpin tertinggi Syiah Iran, Ali Khamenei.

Lebih dari 200 Perusahaan Israel Menjalin Hubungan dengan Iran. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, tanpa henti mengajarkan perlunya ada tindakan tegas terhadap Iran untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, namun dirinya tidak mampu untuk menghentikan perusahaan Israel dan individu Israel yang secara langsung maupun tidak langsung melakukan perdagangan dengan Iran.

Esfandiar Rahim bersama Ahmadinejad

Ia juga tidak bertindak tegas terhadap perusahaan internasional dan perusahaan-perusahaan Israel yang beroperasi di Iran, sambil mempertahankan kontrak besar Iran dengan perusahaan Israel - termasuk badan-badan negara seperti Electric Corporation dan Otoritas Bandara.

Sedikitnya 200 perusahaan internasional yang beroperasi di Israel memelihara hubungan perdagangan yang luas dengan Iran. Hubungan ini termasuk investasi dalam industri energi Iran, yang merupakan sumber penghasilan utama Iran dan berfungsi untuk menyalurkan dana untuk mengembangkan rudal, program nuklir dan senjata konvensional lainnya.

Sejatinya, menurut Husain Ali Hasyimi, dalam tulisannya, Al-Harbul Musytarakah Iran wa Israil bahwa sejak zaman Syiah Pahlevi, Iran telah menjalin hubungan perdagangan dengan Zionis Yahudi. Dan hubungan dagang ini berkelanjutan hingga setelah revolusi Syiah yang dipimpin oleh Khumaini.

Bahkan pada tahun 1980-1985, Zionis Yahudi merupakan Negara pemasok senjata terbesar ke Iran. Sandiwara "permusuhan" Iran dan Yahudi mulai terbongkar, ketika pesawat kargo Argentina yang membawa persenjataan dari Yahudi ke Iran tersesat, sehingga masuk ke wilayah Uni Soviet, dan akhirnya di tembak jatuh oleh pasukan pertahanan Uni Soviet. Dikisahkan, Iran membeli persenjataan dari Yahudi seharga 150 juta dolar Amerika, sehingga untuk mengirimkan seluruh senjata tersebut, dibutuhkan 12 kali penerbangan.

Lebih dari itu, Amerika juga pernah terlibat skandal dengan Iran dimana Ronald Reagen, (yang kala itu menjadi Capres) pernah berpura-pura memerangi Khomeini, akan tetapi di belakang layar justru Amerika gencar mengirimkan senjata-senjata mutakhir untuk memenangkan Khomeini.

Lewat investigasi berkepanjangan akhirnya skandal Iran Gate ini pun akhirnya terbongkar. Reagan dianggap menjurus pada tindakan kriminal, terlebih telah melibatkan CIA dan Partai Republik dengan seluruh kegiatannya menjalin hubungan dengan Iran. Reagan pun akhirnya membuat pernyataan resmi kepresidenan tentang hubungan AS-Iran. Dikatakan tidak ada masalah apa pun dalam hubungan kedua negara. Negeri ini juga tidak lagi memberi indikasi teror yang mengancam AS.

Semakin membingungkan memang, bagi kita yang tidak mengetahui karakter sejati Syi’ah Rafidhah. Fakta yang terungkap ini, menegaskan kembali kepada kita bahwa kesederhanaan dan keberanian Ahmadinejad dalam menghadapi barat, bukanlah hakekat sebenarnya sikap mereka.

Ronald Regan

Apalagi, Ahmadinejad memang berulangkali tertangkap basah tengah bertemu dengan para pemimpin Yahudi. Ahmadinejad memiliki hubungan yang harmonis dengan Yahudi. Semasa berada di New York, presiden Iran tersebut terlihat dengan antusias menyambut kedatangan sejumlah Rabbi Yahudi AS.

Islam sendiri mengajarkan kepada kita, bahwa untuk menilai seseorang harus memulainya dari aqidah orang tersebut terlebih dahulu, bukan hanya sekedar akhlaknya yang baik, ataupun karakternya yang sangat bersahaja.

Karikatur Skandal Iran Gate

Karena jika hanya menilai dari atribut kepribadian, maka banyak orang-orang kafir yang memiliki pula kebaikan yang hebat terhadap kemanusiaan. Sebutlah Bunda Theresa yang menjadi symbol pembelaan terhadap orang-orang lema di India.

Keutamaan dan derajat seseorang didalam Islam, diukur dari aqidah dan tauhid orang tersebut kepada Allah SWT. Sebanyak apapun seseorang melakukan kebaikan, tetapi jika tidak memiliki iman, maka amal mereka seperti debu dimata Allah SWT.

Inilah sosok sejati Ahmadinejad, yang mungkin anda pernah kagumi. Akan tetapi, sebagai seorang Rafidi dan keturunan Yahudi. Ia bertaqiyyah menyembunyikan permusuhan terhadap Islam hingga kini.

Wallahu’alam bisshowab.

(bilal/arrahmah.com)
 

Thursday, September 27, 2012

Ahmadinejad desak peraturan baru dunia




27 September 2012
NEW YORK - Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad mendesak peraturan baru dunia diwujudkan bagi menggantikan peraturan sedia ada yang dianggap didominasi Amerika Syarikat (AS), kelmarin.

Ahmadinejad yang ditemu bual The Associated Press (AP), selepas menghadiri Perhimpunan Agung Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu (PBB) mengetengahkan jalan penyelesaian isu perang saudara di Syria dan mengetepikan persoalan masa depan nuklear Iran selain mendakwa negaranya masih utuh walaupun Barat mengenakan pelbagai sekatan.

"Murid-murid sekolah rendah seluruh dunia pun memahami bahawa kerajaan AS sebenarnya melaksanakan satu dasar antarabangsa yang membuli," katanya.

Dalam pada itu, Presiden AS, Barack Obama mengeluarkan amaran kepada Iran bahawa tempoh menyelesaikan pertikaian program nuklearnya tamat dan AS tidak akan bertoleransi lagi.

Ahmadinejad bagaimanapun belum menjawab desakan Obama kerana menghormati proses pilihan raya AS, pada November depan.

Namun, pemimpin Iran itu mempersoalkan tindakan sekatan antarabangsa ke atas program nuklearnya sebagai satu alasan Barat untuk menguasai negaranya dan mendakwa AS tidak pernah menerima Iran sebagai sebuah kerajaan selepas revolusi Islam pada 1979.  - AP

Tuesday, September 25, 2012

Ahmadinejad kutuk filem anti-Islam



NEW YORK 24 Sept. - Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad mengutuk filem anti-Islam yang mencetuskan rusuhan anti-Amerika Syarikat (AS) di seluruh dunia Islam.
Bagaimanapun, beliau juga meminta semua pihak bertenang ekoran kejadian itu.
‘‘Pada asasnya, kami mengutuk semua tindakan provokatif, menghina agama dan penganutnya.
‘‘Menghina Nabi Muhammad perbuatan teruk. Ini tiada kena-mengena dengan kebebasan dan kebebasan bersuara. Ini kelemahan dan penyalahgunaan kebebasan dan dalam kebanyakan keadaan ia adalah satu jenayah,’’ katanya kepada saluran televisyen, CNN, semalam.
Beliau berkata, ia tidak sepatutnya berlaku dan berharap ahli politik tidak akan bertindak menghina mana-mana tokoh agama.
Dalam pada itu, kira-kira 300 penganut Islam di Filipina hari ini mengadakan demonstrasi di luar Kedutaan AS di Manila bagi menggesa filem tersebut diharamkan.
Di Athens, polis Greek menggunakan gas pemedih mata dan penyembur lada bagi menyurai tunjuk perasaan di luar Kedutaan AS, semalam. - AFP

Saturday, September 24, 2011

Ucapan Ahmadinejad berbisa di telinga AS



NEW YORK 23 Sept. - Delegasi Amerika Syarikat (AS) keluar dari dewan Perhimpunan Agung Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) ketika Presiden Mahmoud Ahmadinejad mengkritik negara-negara Barat.
Pemimpin Iran itu sekali lagi menyatakan keraguannya terhadap punca pembunuhan kaum Yahudi yang digelar Holocaust dan serangan 11 September 2001 serta mengkritik AS yang membunuh pemimpin al-Qaeda, Osama bin Laden tanpa membawanya ke muka pengadilan.
“Negara-negara Eropah menggunakan pembunuhan kaum Yahudi itu sebagai alasan untuk membayar tebusan kepada Zionis.
“Matlamat kejam negara-negara Barat merupakan punca peperangan dan krisis ekonomi,” katanya.
Seperti yang pernah berlaku di perhimpunan PBB dan majlis antarabangsa yang lain sejak beberapa tahun ini, seorang diplomat AS yang mengawasi ucapan di Perhimpunan Agung PBB keluar meninggalkan perhimpunan tersebut 20 minit selepas ucapan dimulakan.
Menurut jurucakap misi AS, Mark Kornblau, seramai 27 orang dari Kesatuan Eropah (EU) kemudian mengikuti jejak langkah diplomat AS itu sebagai tanda Protes.
“Ahmadinejad mempunyai peluang menyatakan hasrat rakyatnya untuk kebebasan dan maruah tetapi sebaliknya beliau sekali lagi bersifat anti-Semitik dan mengeluarkan teori konspirasi yang keji,” kata Kornblau. - AFP