Friday, July 12, 2013

Tenyata Mubarak Dibalik Kudeta Militer Gulingkan Muhammad Moursi


Salah bila ada orang mengatakan bahwa Presiden Mursilah yang mengangkat As-Sissi menjadi menteri pertahanan. Karena pengangkatan As-Sissi adalah salah satu syarat ketika menggulingkan Thanthawi, menteri pertahanan sebelumnya.

Ketika menggeser Thanthawi dan Adnan, sebenarnya Presiden Mursi tidak menguasai militer dan Dewan Militer sepenuhnya. Oleh karena itu, Mursi tidak bisa memilih pemimpin militer yang pantas memimpin. Sehingga yang terjadi adalah saling tawar-menawar dengan anggota Dewan Militer, yang akhirnya menyetujui turunnya Thanthawi dengan pengganti dari mereka, yaitu Abdul Fattah As-Sissi. Saat itu Presiden tidak bisa menolak, apalagi beliau menganggap bahwa saat itu adalah masa transisi untuk sedikit demi sedikit mengakhiri kekuasaan militer.

Para pengamat menilai bahwa pengangkatan As-Sissi sebagai menteri pertahanan adalah skenario dari Mubarak yang menjalankan perang dari penjara. Mubarak memandang bahwa Thanthawi sudah gagal dalam memimpin militer, hal yang terindikasi dengan yel-yel demonstran “Jatuhlah pemerintahan militer”. Dengan demikian, tidaklah mungkin bisa dia menggalang kekuatan massa yang besar melawan Ikhwanul Muslimin.

Thanthawi Mengumumkan Kemenangan Mursi sebagai Presiden

Kemenangan Mursi adalah pukulan yang sangat berat bagi rezim Mubarak. Mereka ingin Syafiqlah yang memenangkan pemilu, apapun konsekwensinya. Sedangkan Thanthawi menyerah dengan hasil pemilu, dan khawatir kondisi Mesir semakin kacau tak terkendali. Saat itu, demostran juga sudah berkumpul dalam jumlah yang sangat besar di Bundaran Tahrir. Oleh karena itu, Thanthawi mengumumkan kemenangan Mursi sebagai presiden.

Pemimpin Dewan Militer Tetap Loyal dengan Mubarak

Setelah pengumuman kemenangan Mursi, Mubarak langsung memutuskan untuk mengganti Thanthawi, dengan akses para pemimpin Dewan Militer yang masih loyal kepadanya. Mengingat masih banyak pemimpin Dewan Militer yang lebih loyal kepada Mubarak daripada kepada pemimpin mereka, Thanthawi.

Para pemimpin militer tersebut mendatangi Presiden Mursi. Mereka melaporkan bahwa militer sudah terlalu jauh terjun dalam politik. Hal ini sedikit-banyak telah menurunkan kemampuan tempur mereka. Apalagi ketika Thanthawi memimpin, militer menjadi musuh banyak sekali kekuatan politik. Mereka mengusulkan, militer menarik diri dari politik dan mengganti Thanthawi. Mereka meyakinkan dan menjamin, militer tidak akan memprotes penggantian tersebut, dengan syarat yang menggantikannya adalah Abdul Fattah As-Sissi. Karena As-Sissi masih muda dan memiliki kemampuan untuk meningkatkan kembali performa militer yang hilang dalam masa transisi.

Sebenarnya Presiden Mursi tidak yakin dengan usulan mereka. Tapi beliau akhirnya menerimanya mengeluarkan militer dari politik. Dalam benaknya, Mursi pun ingin segera mengganti As-Sissi dengan seorang pemimpin baru yang bisa memegang amanah kemashlahatan militer Mesir.

Kenapa Harus As-Sissi?

Sebelumnya, As-Sissi adalah pemimpin intelijen militer, dan orang yang paling loyal kepada Mubarak. Sedangkan Mubarak sendiri hanya percaya kepada militer.

As-Sissi adalah orang yang bertanggung jawab atas “Perang Unta” (kejadian penyerbuan sekelompok orang penunggang kuda dan unta ke tengah-tengah demonstran di Bundaran Tahrir). Dia orang yang memegang kendali “pihak ketiga” yang terlibat dalam banyak sekali kerusuhan yang menjatuhkan banyak korban. Misalnya kejadian Maspero, stadion Port Said, dan sebagainya.

Kemudian langkah berikutnya adalah As-Sissi berusaha memperbaiki citranya, mendekati kekuatan-kekuatan politik yang ada, memastikan loyalitas kalangan Kristen Koptik, Fulul, dan penggerak revolusi yang tidak mendapatkan porsi kekuasaan di pemerintahan Mursi.

Lalu dia memulai konspirasi dengan menggunakan kepolisian, perwira intelijen, dan pendanaan Saudi Arabia dan Emirat. Dimulai membuat pergolakan-pergolakan, menyebarkan 200 ribu preman, sehingga kondisi keamanan Mesir lepas kendali. Dalam kondisi ini, rakyat sangat mendambakan keamanan walaupun dengan imbalan kembalinya rezim Mubarak.

Di sinilah As-Sissi tampil sebagai tokoh penyelamat. Dia menyelesaikan permasalahan keamanan dengan sangat mudah dengan kekuatan militer yang super. Di waktu yang sama, As-Sissi juga menenangkan Presiden Mursi, bahwa dirinya tidak menginginkan kekuasaan, dan militer akan selalu melindungi pemerintahan yang sah.

Ultimatum 48 Jam Dan Detik-Detik Menentukan

Sampai tibalah detik-detik yang menentukan. Terjadi demonstrasi yang sangat besar menuntut Presiden Mursi mundur. Saat itulah As-Sissi tampil dan mengatakan bahwa dirinya telah mendengar akan memenuhi tuntutan mereka. Dia akan memberi Presiden Mursi tenggang waktu 48 jam untuk menyelesaikan krisis ini, jika tidak berhasil maka militer akan mengambil alih kekuasaan untuk masa transisi.

Begitu tenggang waktu habis, As-Sissi mengumumkan kudeta militernya dengan menyampaikan sebuah inisiatif solusi yang sebenarnya semua butirnya sudah diutarakan oleh Presiden Mursi, kecuali butir penggulingannya.

Drama ini berakhir dengan menggulingkan dan menahan Presiden Mursi. Mesir pun masuk kepada kondisi sulit, yang tidak jelas akhirnya. (sma/dakwatuna)

Sumber: dakwatuna.com

No comments:

Post a Comment